LITERASI MEDIA – Komisi II DPRD Kota Sukabumi menyoroti lemahnya langkah konkret Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi mendukung pelaku ekonomi kreatif (Ekraf).
Anggota Komisi II DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi Partai Golkar, Gundar Qolyubi, menegaskan pengembangan ekraf tidak cukup berhenti pada wacana maupun kegiatan seremonial, tetapi membutuhkan dukungan nyata dan terukur dari pemerintah daerah.
Hal itu disampaikan Gundar usai melakukan kunjungan kerja ke Kota Depok, yang dinilainya lebih maju dalam pengelolaan dan pemberdayaan sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, Depok dapat menjadi contoh konkret bagaimana peran pemerintah daerah benar-benar dirasakan langsung oleh pelaku ekraf.
“Penguatan Ekraf di Kota Sukabumi seharusnya bisa belajar dari Kota Depok. Di sana, peran pemerintah sangat nyata. Mulai dari penyediaan fasilitas, sarana-prasarana, hingga dukungan anggaran untuk tempat-tempat kreasi pelaku Ekraf, semuanya benar-benar terfasilitasi,” ujar Gundar, pada Selasa (3/2).
Ia menilai, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Kota Sukabumi yang sejauh ini belum menunjukkan keseriusan yang sama. Padahal, menurut Gundar, Kota Sukabumi memiliki potensi dan aset yang cukup, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
“Seharusnya sarana yang sudah ada, seperti Lapang Renyah di 33 kelurahan, Lapang Cikondang, dan ruang publik lainnya, bisa dimaksimalkan untuk aktivitas dan kreasi pelaku Ekraf. Jangan sampai fasilitas ada, tetapi tidak diarahkan untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi minimnya keterlibatan langsung pemerintah daerah dalam membuka akses kerja sama bagi pelaku ekraf. Ia menilai, Pemkot Sukabumi seharusnya hadir sebagai fasilitator yang aktif, bukan sekadar penonton.
“Di Depok, pelaku ekraf sudah difasilitasi untuk menjalin kerja sama dengan BUMD maupun pihak swasta. Pemerintah daerah turun langsung memberikan jalan keluar. Ini yang belum terlihat di Sukabumi,” katanya.
Menurutnya, tanpa dukungan kebijakan yang konkret, sektor ekonomi kreatif di Kota Sukabumi akan terus berjalan di tempat dan hanya muncul pada momen-momen tertentu yang bersifat seremonial. Padahal, ekraf memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus sarana promosi identitas lokal.
Ia berharap, ke depan Pemkot Sukabumi dapat mengubah pendekatan dalam pengembangan ekraf, dari sekadar kegiatan simbolik menjadi program berkelanjutan yang berdampak langsung pada kesejahteraan pelaku ekraf.
“Ekonomi kreatif harus terus hidup, bukan hanya tampil saat acara-acara tertentu. Muatan lokal Kota Sukabumi harus benar-benar diangkat, sehingga bisa memberi nilai tambah dan mengharumkan nama daerah,” pungkasnya.









