LITERASI MEDIA – Langit Mekkah sore itu berwarna keemasan. Sinar matahari yang mulai redup memantul lembut di lantai marmer putih pelataran Masjidil Haram.
Di tengah ribuan jamaah dari berbagai negara yang baru saja menunaikan umrah, tampak sekelompok jamaah asal Indonesia berjalan pelan sambil membawa kotak-kotak makanan.
Mereka tersenyum, menyapa, dan membagikan satu per satu paket kepada para jamaah yang tengah beristirahat di sekitar masjid.
Di antara rombongan itu, berdiri sosok perempuan berhijab sederhana, wajahnya teduh dan penuh semangat. Ia adalah tokoh perempuan asal Kota Sukabumi, Momi Soraya, yang tengah menunaikan ibadah umrah bersama keluarga dan rombongan berjumlah 30 orang.
Di sela perjalanan spiritualnya, Momi Soraya menginisiasi kegiatan sodakoh makanan siap saji, sebuah aksi kemanusiaan yang menyentuh hati di tanah paling suci.
Sebanyak 705 paket makanan siap saji dibagikan pada hari kedua keberadaannya di Mekkah. Momen itu dilakukan setelah seluruh jamaah rombongan melaksanakan umrah, tepat saat sore mulai menjemput malam.
“Kami merasa, setelah menjalani ibadah umrah, ada dorongan kuat untuk langsung berbagi. Maka sore itu kami melaksanakan sodakoh makanan di pelataran Masjidil Haram,” tutur Momi Soraya penuh ketenangan.
Bukan jumlahnya yang besar, tapi maknanya yang dalam. Di antara lautan manusia dari berbagai bangsa, tindakan kecil itu menjadi simbol kasih dan solidaritas.
Dana kegiatan ini, kata Momi Soraya, berasal dari berbagai sumber yang ikhlas, dirinya dan keluarga, para jamaah rombongan, serta sahabat dan kerabat di Indonesia yang menitipkan sedekah.
Semua menyatu dalam niat yang sama, menebar keberkahan dari jauh, di Tanah Suci.
“Sodakoh ini tidak hanya atas nama kami yang hadir, tapi juga mereka yang menitipkan rezekinya dari Indonesia. Mereka ingin bagian dari kebaikan di tempat yang mulia ini,” ungkapnya.
Satu per satu jamaah di sekitar Masjidil Haram menerima paket dengan senyum tulus. Beberapa bahkan menatap rombongan kecil asal Sukabumi itu dengan haru. Di balik setiap paket makanan, tersimpan doa dan rasa syukur yang mengalir dari hati.
Momi menyebut, berbagi di Tanah Suci memberikan pengalaman spiritual yang tak tergantikan. Ada getaran batin yang sulit digambarkan, perpaduan antara rasa syukur, bahagia, dan haru.
“Kita belajar, bahwa ibadah bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang memberi manfaat. Di tempat paling suci ini, berbagi justru menjadi bagian dari rasa syukur itu sendiri,” katanya lembut.
Bagi Momi Soraya, momen itu bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk refleksi diri. Bahwa kekuatan umat bukan hanya di jumlah jamaah yang datang beribadah, melainkan di kebaikan yang mereka sebarkan ke sesama.
Ketika senja benar-benar turun, rombongan Momi menatap Ka’bah dengan mata berkaca-kaca. Di pelataran suci itu, mereka baru saja menorehkan kisah kecil tentang kasih, kebaikan, dan keberkahan yang mengalir tanpa batas.
Dan di sanalah, di antara ribuan langkah yang mengitari Ka’bah, 705 paket makanan menjadi saksi bahwa ibadah sejati adalah ketika hati mampu memberi tanpa berharap kembali. (Kio).









