LITERASIMEDIA.COM – Pergerakan harga kebutuhan masyarakat di Kota Sukabumi sepanjang Juli 2026 masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 3 Agustus 2026 mencatat inflasi tahunan Kota Sukabumi sebesar 2,47 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Barat yang mencapai 2,72 persen dan inflasi nasional sebesar 2,88 persen. Sementara secara bulanan, Kota Sukabumi justru mengalami deflasi sebesar 0,02 persen.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga. Meski demikian, Pemkot Sukabumi tetap mewaspadai perubahan harga komoditas yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengatakan pengendalian inflasi tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian angka statistik. Menurutnya, keberhasilan kebijakan tersebut harus terlihat dari kemampuan masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
“Yang paling penting adalah bagaimana harga kebutuhan masyarakat tetap terkendali sehingga daya beli warga Sukabumi tetap terjaga. Ini yang menjadi perhatian kami,” ujar Ayep Zaki.
Untuk menjaga kondisi tersebut, Pemkot Sukabumi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat pemantauan harga, stok dan distribusi komoditas strategis. Langkah antisipasi dilakukan terutama terhadap bahan pangan yang harganya mudah berubah akibat faktor cuaca, pasokan, musim panen dan distribusi.
Ayep menegaskan koordinasi antarinstansi dan pemangku kepentingan menjadi kunci agar potensi kenaikan harga dapat diantisipasi sebelum berdampak lebih luas terhadap masyarakat.
“Pengendalian inflasi harus dilakukan bersama. Kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan agar pasokan dan distribusi kebutuhan masyarakat tetap aman,” katanya.
Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Sukabumi, Eneng Rahmi, menjelaskan, pergerakan inflasi pada Juli tidak hanya dipengaruhi komoditas pangan. Ada tiga kelompok utama yang menjadi perhatian, yakni inflasi inti, harga yang diatur pemerintah atau administered prices, serta pangan bergejolak atau volatile food.
Pada kelompok inflasi inti, momentum tahun ajaran baru ikut memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga. Penyesuaian biaya pendidikan, termasuk sekolah dan bimbingan belajar, menjadi salah satu faktor yang tercatat dalam dinamika harga.
Selain pendidikan, harga emas perhiasan dan tarif kontrak rumah juga turut memengaruhi kelompok inflasi inti.
Sementara dari kelompok harga yang diatur pemerintah, perubahan harga bensin dan tarif cukai rokok, baik sigaret kretek mesin (SKM) maupun sigaret kretek tangan (SKT), ikut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Adapun kelompok volatile food menjadi salah satu sektor yang terus dipantau pemerintah. Pergerakan harga komoditas pangan sangat dipengaruhi kondisi pasokan, cuaca, musim panen dan kelancaran distribusi dari produsen hingga pasar.
Meski terdapat sejumlah faktor pendorong inflasi, kondisi harga pangan di Kota Sukabumi selama Juli masih relatif aman. Daging ayam ras, minyak goreng serta sejumlah komoditas hortikultura seperti wortel, jengkol dan ketimun masih bergerak dalam batas kewajaran.
Bahkan, harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami penurunan. Salah satu faktornya adalah melemahnya permintaan selama masa libur sekolah serta belum beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Pergerakan harga pangan terus kami pantau. Ketika ada komoditas yang mulai mengalami kenaikan, kami melakukan koordinasi dan langkah antisipasi agar tidak berkembang menjadi gejolak harga,” jelas Eneng.
Pemkot Sukabumi memastikan pemantauan harga akan terus dilakukan. Stabilitas pasokan, kelancaran distribusi dan kesiapan menghadapi perubahan harga menjadi perhatian agar inflasi tetap terkendali sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (Kio)









