LITERASI MEDIA – Pagi masih muda ketika Lapang Alun-Alun Palabuhanratu mulai ramai. Nafas terengah para pelari, langkah santai warga yang berjalan kaki, dan aroma jajanan sederhana bercampur dalam satu irama kehidupan.
Di tempat itulah, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, H. Iman Adinugraha, memulai rutinitas paginya, berolahraga sambil menyapa warga.
Bagi Kang Iman, olahraga pagi bukan hanya sekadar menjaga kebugaran. Ia menjadikannya ruang untuk mendengar, menyentuh realitas, dan melihat langsung denyut kehidupan masyarakat.
Kang Iman berhenti di beberapa titik, berbincang ringan, tertawa kecil, hingga akhirnya langkahnya tertahan pada seorang pedagang kecil bernama Wahyu.
Dengan tas sederhana berisi jajanan anak-anak, Wahyu berdiri di pinggir lapang. Wajahnya menyimpan kelelahan, namun senyumnya tetap terjaga.
Saat diajak berbincang, Wahyu tak banyak mengeluh. Ia hanya berkata jujur, dari berjualan jajanan itulah ia menggantungkan harapan hidup.
“Sehari paling dapat dua puluh ribu, Pak,” ucapnya pelan, nyaris tenggelam oleh riuh aktivitas pagi.
Dua puluh ribu rupiah. Angka kecil yang menyimpan kisah panjang tentang bertahan hidup. Tentang bangun pagi, menyiapkan dagangan, menunggu pembeli yang tak selalu datang, dan pulang dengan sisa tenaga serta doa agar esok lebih baik.
Kang Iman terdiam. Pandangannya tak lagi pada lintasan lari, melainkan pada realitas yang kerap luput dari sorotan. Tanpa banyak kata, ia merogoh dompetnya dan menyerahkan Rp500 ribu kepada Wahyu.
“Saya kasih modal. Tambahin dagangannya, ya. Jangan menyerah,” kata Iman sambil menepuk bahu Wahyu.
Namun kepedulian itu tak berhenti di situ. Iman melihat, keterbatasan Wahyu bukan hanya soal modal, tetapi juga sarana berjualan yang layak. Ia pun menyampaikan komitmen lanjutan.
“Insyaallah, saya akan sumbangkan mesin untuk teh poci, supaya Wahyu bisa berjualan lebih layak dan punya tambahan penghasilan,” katanya.
Bagi Wahyu, bantuan dan janji itu terasa seperti cahaya di ujung lorong panjang. Matanya berkaca-kaca. Suaranya bergetar saat mengucapkan terima kasih. Sebagai seorang ayah dari dua anak, perhatian itu memberinya kekuatan baru untuk terus berjuang.
Iman Adinugraha menegaskan, pelaku usaha kecil seperti Wahyu bukanlah orang yang ingin dikasihani. Mereka hanya membutuhkan kesempatan dan sedikit dorongan agar bisa berdiri lebih kokoh.
“Orang-orang seperti Wahyu ini pekerja keras. Tugas kita adalah hadir, mendengar, dan membantu agar mereka bisa hidup lebih layak,” ujarnya.
Pagi di Alun-Alun Palabuhanratu pun terus berjalan. Warga kembali melanjutkan aktivitas, matahari kian meninggi. Namun bagi Wahyu, hari itu akan selalu diingat sebagai hari ketika perjuangannya sebagai warga kecil Palabuhanratu, ayah dari dua anak, benar-benar dilihat dan diberi harapan baru. (Kio).









