Momi Soraya dan Suara yang Menguatkan Orang Tua di Tengah Ancaman Pergaulan Bebas

- Penulis

Minggu, 16 November 2025 - 17:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana seminar bertema Peran Orang Tua Terhadap Pencegahan Pergaulan Bebas yang digelar Yayasan Nur Hayatul Islam Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Minggu (16/11).

Suasana seminar bertema Peran Orang Tua Terhadap Pencegahan Pergaulan Bebas yang digelar Yayasan Nur Hayatul Islam Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Minggu (16/11).

LITERASI MEDIA – Pagi di Jalan KH Ahmad Sanusi, Gunungpuyuh, terasa lebih hangat dari biasanya. Ratusan warga dari berbagai usia, mulai dari ibu rumah tangga, para ayah, hingga remaja, berkumpul di halaman Yayasan Nur Hayatul Islam.

Mereka datang bukan sekadar menghadiri seminar, tetapi mencari pegangan baru dalam menghadapi tantangan besar yang dihadapi anak-anak zaman sekarang.

Di dalam ruangan, suasana penuh keakraban. Sesekali terdengar tawa kecil, sesekali anggukan serius.

Tema seminarnya tidak ringan, “Peran Orang Tua Terhadap Pencegahan Pergaulan Bebas.” Namun justru itulah yang membuat banyak orang rela meluangkan waktu di akhir pekan.

Ketua Yayasan Nur Hayatul Islam, Ustadz Anwar Syarwani, membuka kegiatan dengan pembahasan tentang pentingnya pendidikan keluarga. Suaranya tenang, tetapi tegas.

“Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Di sinilah nilai-nilai moral dibentuk. Orang tua adalah guru yang paling berpengaruh,” ujarnya sambil menatap peserta satu per satu.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuat anak-anak lebih cepat mengenal dunia luar, baik yang positif maupun negatif. Karena itu, menurutnya, keteladanan orang tua menjadi kunci dalam mengarahkan karakter mereka.

Namun perhatian peserta terarah penuh ketika Momi Soraya, Penasihat Yayasan Nur Hayatul Islam, melangkah ke depan. Dengan suara lembut namun mantap, ia mulai menggambarkan realitas yang dihadapi generasi muda saat ini.

Baca Juga :  Begini Harapan Dian Apriandi di Momen Hari Jadi PDAM TBW Kota Sukabumi ke-50

“Arus informasi tak pernah berhenti. Anak-anak kita setiap hari menghadapi konten dan lingkungan pergaulan yang bisa memengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak,” kata Momi.

Ia bercerita tentang berbagai kasus yang pernah ia temui, remaja yang salah pergaulan, anak yang kehilangan arah, hingga keluarga yang kewalahan menghadapi perubahan zaman.

Cerita-cerita itu membuat suasana seminar seketika hening, bukan karena takut, tetapi karena merasa tersentuh.

Momi Soraya kemudian menyebutkan ancaman yang paling umum, narkoba, seks bebas, kekerasan, dan penyimpangan sosial. Namun bukan sekadar ancaman yang ia tekankan, melainkan bagaimana orang tua dapat menjadi benteng bagi anak-anaknya.

Ia merinci sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga, namun membingkainya dengan sentuhan emosional.

“Jadilah tempat pulang yang nyaman,” ucapnya pelan. “Anak-anak tidak selalu membutuhkan jawaban dari orang tuanya. Kadang mereka hanya ingin didengarkan.”

Beberapa peserta terlihat mengusap mata. Sebagian lainnya mencatat dengan serius. Bagi mereka, kalimat-kalimat itu seperti pengingat yang selama ini terlupakan.

Baca Juga :  Ayep Zaki: Koperasi Merah Putih Harus Jadi Wadah Usaha yang Menguntungkan Semua Pihak

Momi Soraya juga menyoroti pentingnya komunikasi yang hangat dan pengawasan bijak, bukan mengontrol secara berlebihan. Menurutnya, anak-anak perlu diarahkan dengan kasih, bukan ditakuti.

“Mari hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai sahabat,” tambahnya.

Selain itu, ia mengajak orang tua untuk memahami teknologi dan media sosial yang digunakan anak-anak. Tidak harus ahli, tetapi setidaknya tahu dunia digital seperti apa yang bersinggungan dengan anak setiap hari.

Seminar kemudian ditutup dengan ajakan bersama untuk memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam menjaga generasi muda.

Saat acara selesai, sebagian orang tua enggan langsung pulang. Mereka masih berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengulang pesan-pesan yang mereka dapatkan pagi itu.

Di antara kerumunan, seorang ibu tersenyum sambil menggenggam erat tangan anak remajanya. “Hari ini saya belajar banyak,” bisiknya.

Seminar itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi bagi banyak keluarga, ia membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar materi, sebuah harapan baru, bahwa generasi muda dapat tumbuh kuat, selama orang tua tetap hadir, mendengar, dan membimbing. (Kio).

Berita Terkait

Selaraskan Prioritas Pembangunan, Bappeda dan DPRD Kota Sukabumi Bahas KUA-PPAS 2027
International Job Fair 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Lebih dari 5.000 Peluang Kerja Global
Iman Adinugraha Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya, Ajak Semua Pihak Gotong Royong
Lapang Merdeka Sukabumi Kian Tertib, Kehadiran Security Beri Rasa Aman bagi Pengunjung
HUT ke-65 IKWI Kota Sukabumi Diisi Aksi Berbagi, Tebarkan Semangat Kepedulian Sosial
Optimalkan Pajak Air Tanah, BPKPD Kota Sukabumi Kaji Penerapan Water Meter Ultrasonik
DLH Kota Sukabumi Perkuat Pengelolaan Sampah, Edukasi Warga Jadi Fokus Utama
53 Tahun KNPI: Dirintis Bung H. Hamami, Harmoni dalam Estafeta Kepemimpinan Bung Sudar Fauzi
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 20:44 WIB

Selaraskan Prioritas Pembangunan, Bappeda dan DPRD Kota Sukabumi Bahas KUA-PPAS 2027

Senin, 27 Juli 2026 - 19:59 WIB

International Job Fair 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan Lebih dari 5.000 Peluang Kerja Global

Senin, 27 Juli 2026 - 14:40 WIB

Iman Adinugraha Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya, Ajak Semua Pihak Gotong Royong

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:53 WIB

Lapang Merdeka Sukabumi Kian Tertib, Kehadiran Security Beri Rasa Aman bagi Pengunjung

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:36 WIB

HUT ke-65 IKWI Kota Sukabumi Diisi Aksi Berbagi, Tebarkan Semangat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru