LITERASI MEDIA – Pagi di Jalan KH Ahmad Sanusi, Gunungpuyuh, terasa lebih hangat dari biasanya. Ratusan warga dari berbagai usia, mulai dari ibu rumah tangga, para ayah, hingga remaja, berkumpul di halaman Yayasan Nur Hayatul Islam.
Mereka datang bukan sekadar menghadiri seminar, tetapi mencari pegangan baru dalam menghadapi tantangan besar yang dihadapi anak-anak zaman sekarang.
Di dalam ruangan, suasana penuh keakraban. Sesekali terdengar tawa kecil, sesekali anggukan serius.
Tema seminarnya tidak ringan, “Peran Orang Tua Terhadap Pencegahan Pergaulan Bebas.” Namun justru itulah yang membuat banyak orang rela meluangkan waktu di akhir pekan.
Ketua Yayasan Nur Hayatul Islam, Ustadz Anwar Syarwani, membuka kegiatan dengan pembahasan tentang pentingnya pendidikan keluarga. Suaranya tenang, tetapi tegas.
“Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Di sinilah nilai-nilai moral dibentuk. Orang tua adalah guru yang paling berpengaruh,” ujarnya sambil menatap peserta satu per satu.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi membuat anak-anak lebih cepat mengenal dunia luar, baik yang positif maupun negatif. Karena itu, menurutnya, keteladanan orang tua menjadi kunci dalam mengarahkan karakter mereka.
Namun perhatian peserta terarah penuh ketika Momi Soraya, Penasihat Yayasan Nur Hayatul Islam, melangkah ke depan. Dengan suara lembut namun mantap, ia mulai menggambarkan realitas yang dihadapi generasi muda saat ini.
“Arus informasi tak pernah berhenti. Anak-anak kita setiap hari menghadapi konten dan lingkungan pergaulan yang bisa memengaruhi cara mereka berpikir dan bertindak,” kata Momi.
Ia bercerita tentang berbagai kasus yang pernah ia temui, remaja yang salah pergaulan, anak yang kehilangan arah, hingga keluarga yang kewalahan menghadapi perubahan zaman.
Cerita-cerita itu membuat suasana seminar seketika hening, bukan karena takut, tetapi karena merasa tersentuh.
Momi Soraya kemudian menyebutkan ancaman yang paling umum, narkoba, seks bebas, kekerasan, dan penyimpangan sosial. Namun bukan sekadar ancaman yang ia tekankan, melainkan bagaimana orang tua dapat menjadi benteng bagi anak-anaknya.
Ia merinci sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga, namun membingkainya dengan sentuhan emosional.
“Jadilah tempat pulang yang nyaman,” ucapnya pelan. “Anak-anak tidak selalu membutuhkan jawaban dari orang tuanya. Kadang mereka hanya ingin didengarkan.”
Beberapa peserta terlihat mengusap mata. Sebagian lainnya mencatat dengan serius. Bagi mereka, kalimat-kalimat itu seperti pengingat yang selama ini terlupakan.
Momi Soraya juga menyoroti pentingnya komunikasi yang hangat dan pengawasan bijak, bukan mengontrol secara berlebihan. Menurutnya, anak-anak perlu diarahkan dengan kasih, bukan ditakuti.
“Mari hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai sahabat,” tambahnya.
Selain itu, ia mengajak orang tua untuk memahami teknologi dan media sosial yang digunakan anak-anak. Tidak harus ahli, tetapi setidaknya tahu dunia digital seperti apa yang bersinggungan dengan anak setiap hari.
Seminar kemudian ditutup dengan ajakan bersama untuk memperkuat peran keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam menjaga generasi muda.
Saat acara selesai, sebagian orang tua enggan langsung pulang. Mereka masih berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengulang pesan-pesan yang mereka dapatkan pagi itu.
Di antara kerumunan, seorang ibu tersenyum sambil menggenggam erat tangan anak remajanya. “Hari ini saya belajar banyak,” bisiknya.
Seminar itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi bagi banyak keluarga, ia membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar materi, sebuah harapan baru, bahwa generasi muda dapat tumbuh kuat, selama orang tua tetap hadir, mendengar, dan membimbing. (Kio).









