LITERASI MEDIA.COM – Langkah Iman Adinugraha memasuki kawasan pabrik PT Semen Jawa di Cikembar, Kabupaten Sukabumi, bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ada ingatan lama yang ikut berjalan bersamanya sebuah kunjungan ke pusat industri SCG di Bangkok pada 2008 silam.
Hampir dua dekade berlalu, kini ia berdiri di tanah daerah pemilihannya sendiri. Bukan di luar negeri, melainkan di Sukabumi. Kunjungan spesifik sebagai anggota DPR RI kali ini terasa lebih dekat, lebih personal.
“Dulu saya melihat SCG di Bangkok, sekarang saya melihat langsung di Sukabumi. Ini pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Namun, yang ia cari bukan sekadar melihat mesin produksi atau skala industri. Perhatian utamanya justru tertuju pada satu hal sederhana namun krusial, apakah kehadiran pabrik ini benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.
Di sela kunjungannya, Iman Adinugraha mengamati aktivitas, berbincang dengan manajemen, hingga mencermati peran tenaga kerja lokal di dalam perusahaan. Ia menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum bangga.
Ternyata, tidak sedikit putra-putri asli Sukabumi yang menduduki posisi penting di perusahaan tersebut. Dari tingkat manajerial hingga jabatan strategis lainnya, nama-nama lokal hadir sebagai bagian dari roda industri.
“Ini yang saya ingin pastikan. Bahwa masyarakat lokal tidak hanya jadi penonton, tapi ikut terlibat dan berkembang,” katanya.
Bagi Iman, kehadiran industri besar seharusnya membuka jalan, bukan menutup peluang. Ia melihat, setidaknya di sini, harapan itu mulai terwujud.
Tak berhenti di situ, perhatiannya juga tertuju pada sektor yang kerap menjadi penopang ekonomi rakyat UMKM. Di penghujung kunjungan, ia menerima oleh-oleh berupa produk hasil olahan masyarakat sekitar, produk yang ternyata merupakan binaan dari manajemen perusahaan.
Hal kecil, namun bermakna besar. Baginya, itu menjadi bukti bahwa hubungan antara industri dan masyarakat tidak berhenti di pagar pabrik.
“Ada pemberdayaan di sini. UMKM dilibatkan, dibina, dan diberi ruang untuk tumbuh,” ungkapnya.
Kunjungan ini pun menjadi refleksi bahwa pembangunan tidak hanya soal investasi dan produksi, tetapi juga tentang sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas.
Iman berharap, pola seperti ini tidak berhenti di satu titik. Ia ingin agar kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah terus diperkuat, sehingga keberadaan industri benar-benar menjadi penggerak kesejahteraan.
Dari Bangkok ke Cikembar, perjalanan itu seperti menemukan jawaban. Bahwa di tengah geliat industri, masih ada ruang bagi masyarakat lokal untuk tumbuh bersama. (Kio)









