Sekolah, Ayah, dan PGRI, Kisah Emosional Iman Adinugraha di Palabuhanratu

- Penulis

Sabtu, 27 Desember 2025 - 15:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Iman Adinugraha memberikan arahan dalam momentum konferensi PGRI Cabang Palabuhanratu.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Iman Adinugraha memberikan arahan dalam momentum konferensi PGRI Cabang Palabuhanratu.

LITERASI MEDIA – Pagi itu, derit pintu gerbang SDN 1 Palabuhanratu seolah membangunkan kembali ingatan yang lama tersimpan. Di halaman sekolah yang tak banyak berubah, H. Iman Adinugraha berdiri sejenak, memandang bangunan kelas yang dahulu menjadi saksi masa kecilnya, masa ketika cita-cita belum bernama politik, melainkan sekadar ingin pulang tepat waktu dan mendapat nilai baik dari guru.

Langkahnya perlahan menyusuri halaman sekolah. Jaraknya masih sama seperti dulu, hanya sekitar 200 meter dari rumahnya di Kampung Kaum, cukup ditempuh dengan menyeberang jalan kecil.

Di tempat inilah, Iman kecil belajar mengeja huruf, memahami arti disiplin, dan mengenal makna hormat kepada guru.

“Saya dulu sekolah di sini,” ujarnya pelan, senyum tipis mengiringi kenangan yang menyeruak, dalam Konferensi PGRI Cabang Palabuhanratu masa bakti XXII Tahun 2020–2025, pada Sabtu (27/12).

Hari itu, ia kembali bukan sebagai murid berseragam putih-merah, melainkan sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat yang tengah menjalani masa reses. Namun bagi Iman, kunjungan ini jauh melampaui agenda formal Konferensi PGRI Cabang Palabuhanratu masa bakti XXII Tahun 2020–2025.

Baca Juga :  Keselamatan dan Kebaikan Negeri Tercinta: Lapas Sukabumi Gelar Doa Bersama

Setiap kata “PGRI” yang terdengar di ruangan itu seperti memanggil kenangan lama. Almarhum ayahnya Haji Sadeli pernah berdiri di barisan terdepan organisasi ini, menjabat Ketua PGRI Cabang Palabuhanratu.

Dari rumah sederhana keluarga guru itulah, nilai pengabdian dan keteladanan ditanamkan. “Kalau bicara PGRI, saya selalu ingat orang tua saya. Saya lahir dari seorang guru,” ucapnya, suara sedikit bergetar.

Ikatan batin itulah yang membuat Iman mengaku lebih tersentuh setiap kali berbicara tentang dunia pendidikan.

Ia menyadari betul, di balik ruang kelas yang tampak sederhana, tersimpan perjuangan panjang para guru, mengajar dalam keterbatasan, mendidik dalam sunyi, dan tetap berdiri sebagai penopang masa depan bangsa.

Di hadapan para pendidik, Iman menegaskan kehadirannya bukan membawa kepentingan politik praktis.

“Saya politisi, tapi jangan dicurigai politis. Politik ada waktunya. Saya datang ke sini sebagai wakil rakyat yang ingin bersilaturahmi,” katanya lugas.

Ia menyebut peran guru sebagai kunci menuju Indonesia Emas 2045, visi besar yang tak akan terwujud tanpa ketulusan para pendidik.

Namun, Iman juga tak menutup mata terhadap dinamika dan tekanan yang kerap dihadapi guru, baik dalam organisasi maupun di luar.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Insfrastruktur Jalan, Dinas PU Kabupaten Sukabumi Perbaiki Jalan Sinagar-Wangun

“Kalau etika guru dipegang, jangan takut. Jangan panik. Kita luruskan bersama jika ada yang menekan atau merugikan guru,” pesannya.

Menjelang pemilihan Ketua PGRI Cabang Palabuhanratu, Iman menitipkan harapan agar perbedaan pilihan tidak meninggalkan luka. Baginya, guru harus menjadi contoh bagaimana perbedaan disikapi dengan kedewasaan.

“Setelah pemilihan, harus langsung guyub. Guru itu teladan. Perlihatkan bahwa kita santun, kompak, dan menjaga etika,” ujarnya.

Di tingkat nasional, ia menyampaikan DPR RI tengah menyiapkan pembahasan rancangan undang-undang sistem pendidikan nasional.

Perlindungan guru, termasuk guru PAUD, menjadi salah satu perhatian utama, seiring penegasan sanksi bagi oknum yang mencederai marwah profesi pendidik.

“Guru harus dilindungi. Tapi etika tetap jadi fondasi,” tegasnya.

Menjelang akhir acara, pandangan Iman kembali tertuju pada deretan ruang kelas. Barangkali di sanalah, puluhan tahun lalu, benih pengabdiannya tumbuh.

Ia pun sadar, sejauh apa pun langkah politik membawanya, jejak hidupnya selalu kembali ke satu titik, seorang anak guru yang dibesarkan oleh sekolah dan nilai pengabdian. (Kio).

Berita Terkait

Iman Adinugraha Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya, Ajak Semua Pihak Gotong Royong
Lapang Merdeka Sukabumi Kian Tertib, Kehadiran Security Beri Rasa Aman bagi Pengunjung
HUT ke-65 IKWI Kota Sukabumi Diisi Aksi Berbagi, Tebarkan Semangat Kepedulian Sosial
Optimalkan Pajak Air Tanah, BPKPD Kota Sukabumi Kaji Penerapan Water Meter Ultrasonik
DLH Kota Sukabumi Perkuat Pengelolaan Sampah, Edukasi Warga Jadi Fokus Utama
53 Tahun KNPI: Dirintis Bung H. Hamami, Harmoni dalam Estafeta Kepemimpinan Bung Sudar Fauzi
Tingkatkan Kualitas Infrastruktur, Pemkot Sukabumi Anggarkan Rp2,1 Miliar untuk Proyek Jalan Prana
Ayep Zaki Tinjau Proyek Jalan Prana, Tekankan Kualitas Infrastruktur dan Ancam Blacklist Kontraktor Nakal
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 14:40 WIB

Iman Adinugraha Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran Kasepuhan Cipta Mulya, Ajak Semua Pihak Gotong Royong

Sabtu, 25 Juli 2026 - 21:53 WIB

Lapang Merdeka Sukabumi Kian Tertib, Kehadiran Security Beri Rasa Aman bagi Pengunjung

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:36 WIB

HUT ke-65 IKWI Kota Sukabumi Diisi Aksi Berbagi, Tebarkan Semangat Kepedulian Sosial

Jumat, 24 Juli 2026 - 13:37 WIB

Optimalkan Pajak Air Tanah, BPKPD Kota Sukabumi Kaji Penerapan Water Meter Ultrasonik

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:54 WIB

DLH Kota Sukabumi Perkuat Pengelolaan Sampah, Edukasi Warga Jadi Fokus Utama

Berita Terbaru