LITERASI MEDIA – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Cipatuguran, Palabuhanratu, suara ombak menjadi musik sehari-hari bagi keluarga kecil seorang nelayan. Di rumah itu pula, seorang anak bernama Arul Ramadani menghabiskan waktu dengan kanvas, cat air, dan mimpi yang ia tuangkan lewat warna.
Arul Ramadani bukan anak biasa, siswa SLB Negeri Mutiara Bahari ini lahir dengan keterbatasan atau penyandang disabilitas (tuna rungu dan tuna wicara, red). Namun, dari tangannya yang mungil, lahirlah karya-karya besar. Karya yang mampu berbicara lebih lantang daripada suara manusia mana pun.
Beberapa waktu lalu, Arul mencatat sejarah dan bermakna besar. Ia menjadi Juara Pertama Lomba Melukis Tingkat Nasional. Dari sudut pantai Palabuhanratu yang tenang, namanya bergema hingga ke panggung prestasi nasional.
“Arul ini melukis bukan dengan kata-kata, tapi dengan perasaan,” tutur Salis Fawzia, guru pembina yang dengan penuh kesabaran mendampingi Arul di sekolah. “Setiap goresan kuasnya seperti menceritakan isi hati yang tak bisa diucapkan.”

Kemenangan Arul bukan hanya miliknya sendiri, tapi juga milik para guru yang setiap hari menanamkan keyakinan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi.
“Kami hanya ingin Arul percaya bahwa dirinya mampu. Dan hari ini, keyakinan itu nyata,” tambah Salis dengan mata berkaca-kaca.
Kisah Arul sampai ke telinga H. Iman Adinugraha, anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat. Tersentuh oleh perjuangan sang anak nelayan, Iman mengundang Arul datang ke Rumah Aspirasi Iman Adinugraha di Palabuhanratu.
Di sana, Arul menerima kadeudeuh sebesar Rp5 juta, bukan sekadar hadiah, melainkan bentuk penghargaan atas kerja keras dan semangatnya.
“Saya sangat bangga pada Arul,” kata Iman dengan hangat. “Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Uang ini hadiah kecil, semoga membantu Arul terus berkarya dan meraih masa depan yang lebih baik.”
Tak lupa, Iman juga memberikan apresiasi kepada para guru di SLB Negeri Mutiara Bahari yang dengan sepenuh hati mendidik anak-anak disabilitas.
“Mereka adalah pahlawan sesungguhnya. Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap berjuang membimbing anak-anak luar biasa ini,” ucapnya.
Bagi Arul, melukis adalah bahasa. Warna-warna yang ia pilih, garis-garis yang ia bentuk, semuanya berbicara dalam diam. Di balik sunyi, ia menyimpan dunia penuh imajinasi dan harapan.
Dan kini, dari tepian laut Sukabumi, Arul telah menunjukkan bahwa suara hati bisa terdengar bahkan tanpa kata.
“Harapan kami, semoga Arul terus melukis. Karena setiap lukisannya adalah kisah tentang keberanian,” tutur Salis, menutup dengan senyum bangga. (Kio).









