LITERASI MEDIA – Museum Prabu Siliwangi dan Museum Keramik yang berlokasi di Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi resmi menempati gedung baru yang lebih representatif setelah melalui proses penelitian dan identifikasi koleksi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Peresmian kedua museum tersebut dilakukan oleh Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, dan dihadiri Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, serta sejumlah tokoh budaya dari tingkat provinsi maupun Kota Sukabumi.
Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, KH. Muhammad Fajar Laksana, menjelaskan bahwa pemindahan museum dilakukan setelah BRIN melakukan penelitian terhadap koleksi museum sebanyak enam kali.
Dari hasil penelitian tersebut, berbagai benda koleksi telah melalui proses pemilahan, identifikasi, dan pengkajian sehingga diketahui memiliki nilai sejarah dan artefak yang tinggi.
“Jadi dari hasil kajian itu menunjukkan bahwa gedung lama sudah tidak lagi memadai untuk menampilkan koleksi bersejarah yang terus bertambah dan memiliki nilai penting. Karena itu, Museum Prabu Siliwangi dipindahkan ke gedung baru yang dinilai lebih layak untuk mendukung pelestarian sekaligus edukasi kepada masyarakat,” ujarnya, kepada awak media, Kamis (6/8).
Selain itu, rekomendasi dari para arkeolog dan sejarawan BRIN mendorong pengelola untuk memisahkan koleksi keramik dari Museum Prabu Siliwangi. Pasalnya, jumlah koleksi keramik yang telah teridentifikasi mencapai hampir 500 jenis dengan karakteristik dan nilai sejarah yang beragam.
Atas rekomendasi tersebut, dibangun ruang khusus yang kemudian menjadi Museum Keramik. Sebelumnya, seluruh koleksi keramik masih dipamerkan bersama koleksi Museum Prabu Siliwangi.
“Hasil penelitian menunjukkan koleksi keramik memiliki nilai sejarah dan nilai artefak yang sangat tinggi. Karena itu, kami membuat museum khusus keramik, sementara Museum Prabu Siliwangi dipindahkan ke gedung baru yang lebih representatif,” katanya.
Dengan diresmikannya kedua museum tersebut, diharapkan pelestarian benda-benda bersejarah di Sukabumi semakin optimal sekaligus memperkuat fungsi museum sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pengembangan kebudayaan bagi masyarakat. (Boy)
Editor : Nuria Ariawan









