LITERASI MEDIA – Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi menyalurkan dana hibah kepada 33 Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta 7 dari lembaga lainnya seperti RT, RW, Remaja Masjid, dan Muslimat NU. Penyaluran hibah berlangsung di Ruang Utama Setda Kota Sukabumi, pada Senin (21/7).
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, mengatakan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya. “Ini dari program yang sebelumnya, ya kita hanya melaksanakan saja dan nanti kita atur lagi di 2026,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pada tahun 2025 Pemkot Sukabumi mengalokasikan dana insentif masyarakat sebesar kurang lebih Rp 11 miliar per tahun. “Mudah-mudahan di 2026 bisa kita naikkan, paling tidak 50 atau lebih dari Rp 50 miliar,” ucapnya optimis.
Menurutnya, fokus terhadap dana insentif dan hibah itu karena sifatnya tunai dan langsung dibelanjakan oleh masyarakat. “Dana insentif ini dalam bentuk uang cash, otomatis dibelanjakan oleh masyarakat sehingga daya beli meningkat. Ketika daya beli meningkat, maka pertumbuhan ekonomi juga tumbuh,” jelasnya.
Ia juga menambahkan peningkatan anggaran tidak hanya untuk LPM, tetapi juga menyasar kelompok masyarakat lainnya, termasuk keluarga miskin. Ia berharap seluruh pihak senantiasa mendoakan kebaikan bagi Kota Sukabumi.
“Pesannya, semua berdoa kepada Allah SWT supaya Kota Sukabumi diberi hidayah. Kedua, kompak dan solid berjuang serta mendukung program Wali dan Wakil Wali Kota Sukabumi. Kemudian, setiap apapun jangan dipolitisasi untuk kepentingan politik, tapi untuk kepentingan masyarakat,” tegas Ayep.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menambahkan kegiatan ini sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Barat dan Presiden RI. Ia baru saja mengikuti kegiatan “Karya Kreatif Jawa Barat” yang berlangsung selama empat hingga lima hari.
“Intinya adalah, Gubernur Jawa Barat menyampaikan bahwa tujuan pemerintahan adalah bagaimana uang dapat mengalir kepada masyarakat. Ini sejalan dengan arahan Presiden saat retret kemarin,” katanya.
Bobby menekankan pemerintah daerah wajib melakukan akselerasi program tanpa menyalahi aturan. “Silakan dari industri kreatif atau sektor lainnya, tapi hasil dari improvement itu harus kembali kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurut Bobby, kegiatan hibah seperti ini diharapkan terus meningkat di masa depan sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap janji politik. Ia mencontohkan, hibah yang diberikan kepada Muslimat NU dapat digunakan untuk kegiatan kemaslahatan ibu-ibu pengajian di lingkungan kelurahan.
“Makanya kita dorong masyarakat supaya produktif untuk mendorong daya beli. Artinya, semakin tinggi pendapatannya, semakin tinggi pula yang bisa diberikan kepada masyarakat. Program ini harus melekat dan berdampak langsung bagi warga,” pungkasnya. (Boy).
Penulis : Nuria Ariawan
Editor : Garis Nurbogarullah









