LITERASI MEDIA – Kamis sore di Kampung Pasir Beliung, Desa Bojongkokosan, Parungkuda, udara terasa hangat bukan hanya karena matahari yang masih menyisakan sinarnya, tetapi juga karena hadirnya seorang wakil rakyat yang benar-benar mau turun tangan.
Adalah Teddy Setiadi, anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Gerindra, datang menyapa warga dalam kegiatan resesnya, belum lama ini.
Bagi sebagian orang, reses sering dianggap acara formal, mendengar keluhan, mencatat, lalu berjanji. Namun kali ini berbeda. Teddy tak sekadar duduk dan mendengar. Ia memilih terlibat, merespons, bahkan menepati janji secara spontan.
Ketika seorang kader posyandu menyampaikan bahwa peralatan kesehatan masih jauh dari cukup, Teddy segera menyiapkan bantuan Rp5 juta.
“Ini untuk membeli peralatan dasar. Semoga bisa membantu layanan kesehatan untuk balita, remaja, dan lansia,” katanya. Warga yang hadir sontak bertepuk tangan, sebagian bahkan menahan haru.
Tak berhenti di situ, Teddy juga memberikan Rp4 juta untuk kelompok kasidahan yang selama ini hanya bisa berlatih dengan alat seadanya.
“Kegiatan keagamaan dan sosial harus terus hidup di desa ini,” ucapnya sambil menyerahkan bantuan.
Momen sederhana itu meninggalkan kesan mendalam. Kepala Desa Bojongkokosan, Dini Rahmawati, menuturkan rasa terima kasihnya.
“Pak Teddy ini bukan hanya datang saat reses. Sebelumnya pun beliau sudah banyak membantu. Desa kami benar-benar diperhatikan,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Aspirasi lain memang masih menunggu proses jalan lingkungan yang rusak, UMKM yang butuh perhatian, hingga insentif bagi kader PKK. Namun bagi warga, kepedulian yang hadir hari itu sudah menjadi bukti bahwa suara mereka tak berhenti di catatan kertas. Ada aksi nyata yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari.
Bagi Teddy, kepedulian bukan sekadar jargon politik. Ia meyakini bahwa setiap rupiah yang diberikan, setiap program yang diperjuangkan, adalah investasi bagi masa depan masyarakat.
“Semoga bantuan kecil ini bermanfaat luas. Saya akan terus perjuangkan aspirasi lain di DPRD,” ucapnya tulus.
Di Bojongkokosan, hari itu warga pulang dengan rasa lega posyandu akan lebih lengkap, kasidahan punya semangat baru, dan yang terpenting, mereka merasa didengar. Sebuah pengingat bahwa politik seharusnya bukan tentang kursi, melainkan tentang hati. (Kio).









