Kenali Apa Itu Gynescomastia, Kondisi Pria Memiliki Payudara “Besar”

- Penulis

Selasa, 28 Oktober 2025 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi badan pria.
Foto: Istimewa

Ilustrasi badan pria. Foto: Istimewa

LITERASI MEDIA- Tak Heran Banyak Pria yang memiliki payudara “besar”. Sebagian pria menyebutnya ‘man boobs’ istilah yang sering dianggap lucu, namun bagi sebagian orang justru menjadi sumber ketidakpercayaan diri.

Faktanya, perubahan bentuk dada pada pria bukan hal langka. Kadang disebabkan oleh lemak biasa, dan kadang oleh pertumbuhan jaringan payudara yang disebut gynecomastia.

Bahkan dalam beberapa kasus yang sangat jarang, pembesaran ini juga bisa terkait dengan kanker.

Secara anatomi, dada pria dan wanita sebenarnya memiliki struktur dasar yang sama, terdapat lemak, kelenjar, dan saluran susu di bawah kulit. Bedanya, hormon testosteron pada pria menahan agar jaringan payudara tidak berkembang besar seperti pada wanita.

Namun, saat keseimbangan hormon terganggu, misalnya ketika kadar testosteron menurun atau estrogen meningkat, jaringan kelenjar bisa ikut tumbuh. Inilah yang dikenal sebagai gynecomastia.

Kondisi ini sering kali membuat dada terasa lebih padat, kadang nyeri, dan membesar di sekitar puting.

Sedangkan jika pembesaran hanya disebabkan oleh lemak tanpa pertumbuhan jaringan kelenjar, disebut

pseudogynecomastia. Dada terasa lembek dan biasanya berkurang dengan penurunan berat badan.

Lemak bisa menumpuk di mana saja, termasuk di dada. Tapi jika jaringan terasa keras atau nyeri, itu bukan sekadar lemak.

Hal Umum, tapi sering dianggap memalukan

Penelitian menunjukkan, 30 hingga 50 persen pria sehat memiliki pembesaran jaringan payudara tanpa gejala nyeri. Artinya, hampir separuh pria mungkin pernah mengalaminya di suatu fase hidup bahkan tanpa disadari.

Pada masa pubertas, lonjakan hormon sering membuat dada remaja laki-laki tampak sedikit menonjol. Biasanya, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan atau tahun setelah hormon

Baca Juga :  Deretan Buah Penurun Darah Tinggi, jaga Ginjal Tetap Sehat!

stabil.

Namun pada usia lanjut, ketika kadar testosteron menurun secara alami, gynecomastia bisa muncul kembali, sering kali disertai kenaikan berat badan.

Tentunyam ‘munculnya’ payudara pada pria bukan hanya karena hormon alami. Beberapa obat dan kebiasaan juga dapat memicu pembesaran payudara pria.

Obat untuk rambut rontok dan pembesaran prostat, seperti finasteride, serta obat kanker prostat seperti bicalutamide, diketahui dapat mengubah keseimbangan hormon. Begitu juga steroid anabolik, yang sering digunakan untuk membentuk otot,

bisa memicu efek serupa.

Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan dan ganja juga berpengaruh terhadap jalur hormon dalam tubuh. Gangguan pada hati, ginjal, atau tiroid pun bisa memunculkan perubahan di area dada. Karena itu, pembesaran payudara bisa menjadi tanda bahwa ada hal lain yang tidak beres pada tubuh.

Ketika pria bisa mengeluarkan ASI

Kedengarannya seperti mitos, tapi secara medis, pria memang memiliki struktur dasar yang sama dengan wanita, ada saluran susu dan kelenjar yang bisa menghasilkan cairan.

Dalam kondisi tertentu, seperti gangguan hormon, efek samping obat, atau penyakit hati kronis, pria bisa mengalami galaktorea, yaitu keluarnya cairan seperti susu dari puting.

Kondisi ini jarang dan biasanya tidak berbahaya, namun tetap perlu diperiksa dokter, terutama jika cairan yang keluar berwarna darah atau terjadi terus-menerus.

Meski umumnya tidak berbahaya, gynecomastia bisa berdampak besar pada psikologis penderitanya. Banyak pria merasa malu, menutup diri, atau menghindari aktivitas yang menuntut membuka baju seperti berenang atau olahraga.

“Sebagian pasien datang bukan karena nyeri, tapi karena malu,” ujar seorang ahli bedah plastik di Amerika Serikat. “Mereka merasa penampilannya tidak lagi maskulin.”

Baca Juga :  2026 Mendatang Iuran BPJS Kesehatan Akan Dinaikkan Secara Bertahap

Pada remaja, biasanya cukup diberi penjelasan bahwa kondisi ini normal dan akan membaik seiring waktu. Namun pada pria dewasa, penyebabnya perlu dicari lebih dalam, apakah karena obat, gaya hidup, atau gangguan hormon.

Waspada tanda bahaya

Meski jarang, sekitar 1 persen kasus kanker payudara terjadi pada pria. Itu sebabnya, setiap perubahan di area dada sebaiknya tidak diabaikan.

Segera periksa ke dokter jika Anda menemukan benjolan keras yang tidak berpindah, pembesaran hanya di satu sisi, puting mengeluarkan cairan, atau bentuk dada berubah cepat dalam waktu singkat. Deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa.

Penanganan gynecomastia tergantung penyebabnya. Bila dipicu oleh obat, dokter mungkin akan meninjau ulang dosis atau mengganti jenisnya.

Jika disebabkan oleh gaya hidup, mengurangi alkohol, berhenti memakai steroid, atau menurunkan berat badan bisa membantu.

Pada pseudogynecomastia, olahraga dan pola makan sehat terbukti efektif memperbaiki bentuk dada. Latihan beban seperti push-up dan bench press membantu membangun otot dada dan mengurangi penumpukan lemak.

Namun, jika jaringan kelenjar sudah terbentuk dan tidak berkurang meski berat badan turun, operasi pengangkatan jaringan payudara (breast reduction) bisa menjadi pilihan. Prosedur ini cukup umum dilakukan dan membantu pria mendapatkan kontur dada yang lebih datar.

Terapi hormon testosteron juga bisa membantu jika kadar testosteron memang rendah, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan ketat.

Pemberian hormon tanpa indikasi justru dapat memperparah masalah, karena sebagian testosteron bisa berubah menjadi estrogen dan memperbesar jaringan payudara.(pau)

Berita Terkait

Program Sosial RS Bunut Bantu Pasien Bibir Sumbing Dapatkan Harapan Baru
Kasus Gigitan Hewan Meningkat di Sukabumi, Dinkes Perluas Layanan Rabies Center
Fakta Mengejutkan! Pasien TBC Sukabumi Didominasi Orang Luar Kota
Transformasi Layanan Kesehatan, RSUD R Syamsudin SH Bidik Status RS Pendidikan
Jaga Kesehatan Mental Masyarakat, RSUD R Syamsudin SH Hadirkan Layanan Psikologi Klinis
Kenali Tumor Luring Sejak Dini, RSUD R Syamsudin SH Edukasi Masyarakat Sukabumi
Layanan Kemoterapi Kini Bisa Diakses BPJS di Sukabumi
Waspada! Kasus Super Flu Teridentifikasi di Indonesia Anak-anak Lebih Mudah Terkena
Berita ini 29 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:08 WIB

Program Sosial RS Bunut Bantu Pasien Bibir Sumbing Dapatkan Harapan Baru

Selasa, 5 Mei 2026 - 07:55 WIB

Kasus Gigitan Hewan Meningkat di Sukabumi, Dinkes Perluas Layanan Rabies Center

Senin, 4 Mei 2026 - 19:06 WIB

Fakta Mengejutkan! Pasien TBC Sukabumi Didominasi Orang Luar Kota

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:30 WIB

Transformasi Layanan Kesehatan, RSUD R Syamsudin SH Bidik Status RS Pendidikan

Sabtu, 7 Maret 2026 - 18:50 WIB

Jaga Kesehatan Mental Masyarakat, RSUD R Syamsudin SH Hadirkan Layanan Psikologi Klinis

Berita Terbaru