LITERASI MEDIA – Inflasi Kota Sukabumi pada September 2026 tercatat sebesar 2,75 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Barat sebesar 3,16 persen dan nasional yang mencapai 3,28 persen. Meski relatif terkendali, kenaikan harga sejumlah bahan pokok masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sukabumi per 1 Oktober 2026, inflasi bulanan atau month-to-month (MtM) tercatat sebesar 0,13 persen. Capaian inflasi tahunan tersebut juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus-minus 1 persen.
Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki, mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga di tengah dinamika ekonomi dan perubahan kondisi cuaca. Menurutnya, capaian tersebut perlu dipertahankan melalui pengawasan harga, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok.
“Alhamdulillah, laju inflasi Kota Sukabumi pada September 2026 ini sangat terkendali. Angka tahunan kita sebesar 2,75 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Barat maupun nasional. Ini merupakan hasil kerja bersama dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi dan tantangan cuaca,” ujar Ayep.
Meski demikian, Ayep menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh lengah terhadap pergerakan harga di pasar. Pasalnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dapat berdampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Pemerintah Kota Sukabumi akan memperkuat pemantauan harga kebutuhan pokok serta memastikan pasokan dan distribusi tetap terjaga. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga didorong meningkatkan koordinasi dengan distributor dan melanjutkan program pangan murah untuk menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.
“Ke depan, TPID akan terus melakukan pemantauan intensif di lapangan, memperkuat koordinasi dengan jaringan distributor, dan memastikan program-program pangan murah terus berlanjut demi kenyamanan masyarakat Kota Sukabumi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Sukabumi, Neng Rahmi, menjelaskan bahwa inflasi bulanan pada September 2026 antara lain dipengaruhi kenaikan harga telur ayam ras dan telepon seluler. Kedua komoditas tersebut masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen, sedangkan pisang menyumbang 0,03 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan, di antaranya daging ayam ras, buncis, beras, cabai rawit, dan jagung manis. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan di pasar.
Adapun secara tahunan, emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,39 persen, disusul bensin sebesar 0,24 persen. Komoditas lain yang turut memberikan kontribusi terhadap inflasi meliputi daging ayam ras, beras, tahu mentah, dan minyak goreng.
Menurut Rahmi, kenaikan harga sejumlah bahan pangan berkaitan dengan kondisi iklim dan meningkatnya permintaan masyarakat. Kemarau panjang pada periode sebelumnya turut menekan pasokan beberapa komoditas pangan segar, termasuk cabai dan beras.
“Di sisi lain, peningkatan permintaan masyarakat juga memicu kenaikan harga telur dan daging ayam ras,” jelasnya.
Di tengah tekanan tersebut, peningkatan pasokan melalui panen raya bawang merah turut membantu menekan harga komoditas tersebut di pasaran.
Untuk menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat, TPID Kota Sukabumi telah melaksanakan sejumlah intervensi sepanjang September 2026. Upaya tersebut meliputi penyaluran bantuan pangan, Gerakan Pangan Murah (GPM) di 11 titik, serta pasar murah dan bazar di delapan titik.
Program tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, terutama ketika terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas. Namun, keberlanjutan program juga perlu didukung ketepatan sasaran, kecukupan pasokan, serta pengawasan terhadap harga di tingkat konsumen.
“Berbagai program ini digulirkan untuk menjamin keterjangkauan harga bagi masyarakat,” kata Rahmi.
Ia menambahkan, tantangan pengendalian inflasi ke depan tidak hanya mempertahankan angka inflasi dalam sasaran, tetapi juga memastikan stabilitas harga benar-benar dirasakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Inflasi tahunan yang lebih rendah dibandingkan Jawa Barat dan nasional menjadi gambaran tekanan harga di Kota Sukabumi relatif terkendali. Namun, keberlanjutan capaian tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan, kecukupan pasokan, kelancaran distribusi, dan ketepatan intervensi ketika harga mulai bergerak naik,” pungkasnya. (***)
Editor : Nuria Ariawan









