LITERASI MEDIA – RSUD R. Syamsudin SH kini menghadirkan inovasi layanan pengantaran pasien tanpa keluarga. Hal ini agar memastikan setiap pasien tetap mendapatkan pendampingan, rasa aman, dan perhatian selama menjalani proses perawatan hingga kembali ke lingkungan asalnya.
Kepala Humas RSUD R. Syamsudin SH, Rachmi Santika, S.Kep, Ners, M.Si , menjelaskan layanan tersebut hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap pasien terlantar atau tanpa identitas.
“Di RSUD R. Syamsudin SH, kami terus berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Salah satunya melalui layanan pengantaran pasien tanpa keluarga, agar mereka tetap mendapatkan pendampingan dan perhatian yang layak,” ujar Rachmi, pada Senin (6/4).
Ia menuturkan, baru-baru ini pihak rumah sakit menerima seorang pasien tanpa identitas yang diantar anggota Polsek Citamiang. Pasien tersebut sebelumnya ditemukan dalam kondisi mengamuk dan meresahkan warga di wilayah Citamiang.
“Pasien datang tanpa identitas, sehingga kami segera melakukan langkah koordinatif dengan berbagai pihak untuk memastikan penanganan yang tepat, tidak hanya dari sisi medis tetapi juga sosial,” jelas Rachmi.
Pihak RSUD kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Sukabumi dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Sukabumi guna melakukan perekaman biometrik. Dari hasil tersebut, akhirnya diketahui identitas pasien bernama Suseno, warga Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Barat.
Tidak berhenti sampai di situ, pihak rumah sakit kembali menjalin komunikasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat untuk menelusuri keberadaan keluarga pasien.
“Setelah data keluarga berhasil kami temukan, kami langsung mengambil langkah cepat dengan mengantarkan Pak Suseno kembali ke keluarganya di Desa Gunung Masigit. Ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral kami,” tambahnya.
Rachmi menegaskan, layanan pengantaran pasien tanpa keluarga merupakan bentuk kolaborasi lintas sektor antara rumah sakit, dinas kependudukan, dan dinas sosial guna menghadirkan pelayanan publik yang lebih terintegrasi dan responsif.
“Harapannya, ke depan tidak ada lagi pasien yang merasa sendirian dalam proses pelayanan kesehatan. Kami ingin memastikan setiap pasien, apapun kondisinya, tetap mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak,” pungkasnya. (Boy)









