LITERASI MEDIA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi terus memperkuat upaya penanggulangan HIV/AIDS melalui edukasi, pencegahan, skrining, hingga pengobatan bagi warga yang terdiagnosis positif. Hingga Oktober 2026, sebanyak 10.200 orang telah menjalani tes HIV dari target 11.381 orang sepanjang tahun.
Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Denna Yuliavina, mengatakan penanganan HIV/AIDS tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi harus dimulai melalui upaya promotif dan preventif untuk menekan risiko penularan.
Menurutnya, edukasi mengenai faktor risiko dan cara penularan HIV perlu dilakukan sebelum masyarakat menjalani pemeriksaan atau skrining. Langkah tersebut menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang harus dipenuhi pemerintah daerah sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan.
“Setelah skrining, masyarakat yang hasilnya negatif tetap perlu mendapatkan edukasi, terutama jika masih memiliki perilaku berisiko. Sementara itu, mereka yang dinyatakan positif harus segera diarahkan untuk mendapatkan pengobatan,” ujar Denna saat diwawancarai awak media, Senin (19/10).
Dinkes Kota Sukabumi mencatat, dari 10.200 orang yang telah menjalani tes sepanjang 2026, sebanyak 110 orang terdeteksi positif HIV. Dari jumlah tersebut, 37 orang merupakan warga Kota Sukabumi, sedangkan sisanya berasal dari luar daerah, termasuk Kabupaten Sukabumi, Cianjur, dan Bogor.
Denna menyebutkan, capaian skrining saat ini telah mendekati 90 persen dari target tahunan. Dengan pelaksanaan pemeriksaan yang terus berjalan hingga akhir tahun, pihaknya optimistis target skrining dapat tercapai, bahkan berpotensi melampaui sasaran.
“Target skrining tahun ini sebanyak 11.381 orang. Sampai sekarang sudah 10.200 orang yang diperiksa. Kami berharap target tersebut bisa tercapai hingga akhir tahun,” katanya.
Sebelas Fasilitas Kesehatan Layani Pengobatan HIV
Untuk mempermudah akses pengobatan, Kota Sukabumi telah memiliki 11 fasilitas pelayanan kesehatan yang mampu memberikan perawatan dan dukungan pengobatan bagi orang dengan HIV (ODHIV).
Fasilitas tersebut terdiri atas enam rumah sakit dan lima puskesmas yang telah ditetapkan sebagai layanan perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) HIV.
Sementara itu, fasilitas skrining telah tersedia di seluruh 15 puskesmas dan enam rumah sakit di Kota Sukabumi. Dengan ketersediaan tersebut, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat, sedangkan pasien dengan hasil positif dapat dirujuk untuk memperoleh layanan pengobatan.
Menurut Denna, pengobatan HIV perlu dijalani secara konsisten untuk menjaga kondisi kesehatan pasien sekaligus menekan risiko penularan kepada pasangan.
Ia menegaskan, obat HIV tidak diperjualbelikan secara bebas dan hanya disalurkan melalui institusi pelayanan kesehatan yang telah bekerja sama dengan pemerintah, termasuk puskesmas dan rumah sakit.
“Pengobatan sebenarnya bisa dilakukan dengan baik selama pasien bersedia menjalani terapi secara teratur. Harapannya, pasien yang positif HIV dapat memperoleh pengobatan sehingga risiko penularan kepada pasangan seksualnya bisa ditekan,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan HIV di puskesmas dapat mengakses pelayanan secara gratis. Bahkan, warga yang belum memiliki BPJS Kesehatan dapat memanfaatkan KTP sesuai ketentuan layanan yang berlaku.
Anggaran Program HIV/AIDS Capai Rp41 Juta dari APBD dan DAK
Dalam mendukung penanggulangan HIV/AIDS pada 2026, Dinkes Kota Sukabumi mengalokasikan anggaran untuk sejumlah kegiatan, mulai dari penyediaan alat tes hingga pelayanan kesehatan bagi kelompok berisiko dan orang dengan HIV.
Untuk penyediaan tes HIV dan sifilis, Dinkes memperoleh alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik dari Kementerian Kesehatan sebesar Rp21 juta. Hingga saat ini, realisasi anggaran tersebut telah mencapai 99 persen.
Selain itu, terdapat anggaran APBD masing-masing sebesar Rp10 juta untuk pelayanan kesehatan bagi orang yang berisiko terinfeksi HIV dan pelayanan kesehatan bagi orang dengan HIV.
Dengan demikian, total anggaran untuk tiga komponen tersebut mencapai Rp41 juta.
Adapun dukungan hibah bagi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sukabumi mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi anggaran. Jika sebelumnya alokasi hibah mencapai sekitar Rp150 juta, pada 2026 dukungan yang direncanakan turun menjadi Rp20 juta.
Denna menjelaskan, anggaran hibah tersebut belum disalurkan karena masih menunggu proses realisasi dalam APBD Perubahan.
Di sisi lain, penurunan dukungan donor internasional turut menjadi tantangan dalam pelaksanaan program HIV/AIDS. Menurutnya, dukungan yang sebelumnya digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk peningkatan kapasitas dokter dan perawat melalui pelatihan, kini mengalami pengurangan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah agar keberlanjutan program pencegahan, pemeriksaan, dan pengobatan HIV tetap terjaga.
Tekan Kasus Baru dan Hilangkan Diskriminasi
Dinkes Kota Sukabumi berharap peningkatan cakupan skrining dapat diikuti dengan penurunan jumlah kasus positif baru. Upaya tersebut dilakukan melalui perluasan akses pemeriksaan, edukasi berkelanjutan, serta pengobatan yang mudah dijangkau masyarakat.
Sebagai perbandingan, pada 2025 tercatat 142 orang positif HIV. Sementara itu, hingga Oktober 2026, jumlah temuan positif mencapai 110 orang.
Denna berharap jumlah temuan tersebut dapat tetap terkendali hingga akhir tahun. Namun, ia menekankan bahwa rendahnya angka temuan perlu dicapai melalui pencegahan dan pemeriksaan yang efektif, bukan dengan mengurangi akses masyarakat terhadap tes HIV.
Menurutnya, prinsip penanggulangan HIV/AIDS diarahkan pada tiga sasaran utama, yakni tidak ada kasus baru, tidak ada kematian terkait AIDS yang dapat dicegah, serta tidak ada diskriminasi terhadap orang dengan HIV.
“Harapannya, semakin banyak masyarakat yang menjalani tes, tetapi jumlah kasus positif baru semakin rendah. Prinsip penanggulangan HIV/AIDS adalah zero to zero, yakni nol kasus baru, nol kematian, dan nol diskriminasi,” pungkasnya. (Boy)
Editor : Nuria Ariawan









