LITERASI MEDIA – Pemanfaatan Stadion Surya Kencana di Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi sebagai lokasi konser berskala besar kembali menuai sorotan publik. Hal ini menyusul kondisi stadion yang mengalami kerusakan pascakonser dan sempat viral di media sosial.
Selain kondisi fisik stadion, kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pemanfaatan fasilitas tersebut juga menjadi perhatian.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi, Rahmat Sukandar, menjelaskan bahwa foto-foto yang beredar luas merupakan kondisi sesaat setelah konser berakhir.
“Foto yang beredar itu sekitar enam jam setelah konser. Saat itu memang masih berantakan, tapi sekarang kondisinya sudah membaik dan bisa digunakan kembali,” ujar Rahmat.
Ia menegaskan, pihak event organizer (EO) telah melakukan pembersihan serta perbaikan, termasuk penanganan area lapangan yang terdampak.
“EO juga memperbaiki, menanam kembali rumput, bahkan beberapa bagian yang sebelumnya rusak juga ikut dibenahi,” katanya.
Rahmat menambahkan, kondisi lapangan yang sempat berlumpur turut dipengaruhi faktor cuaca, mengingat konser berlangsung di tengah hujan.
“Hujan menjadi salah satu faktor, sehingga lapangan sempat tertutup lumpur. Namun saat ini kondisinya sudah kembali normal,” jelasnya.
Terkait penggunaan stadion, ia memastikan seluruh kegiatan telah mengikuti mekanisme yang berlaku, termasuk dalam hal perizinan dan retribusi daerah.
“Penggunaan sarana-prasarana daerah itu ada retribusinya dan kami terapkan sesuai perda,” ungkapnya.
Meski demikian, Rahmat mengakui kontribusi PAD dari pemanfaatan Stadion Surya Kencana masih tergolong rendah.
“Tahun kemarin masih di bawah Rp5 juta,” ujarnya.
Ke depan, Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi berupaya mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah agar mampu memberikan nilai tambah, seiring meningkatnya aktivitas di stadion tersebut.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran pemeliharaan, terutama di tengah kondisi efisiensi fiskal yang sedang berlangsung.
“Kita berharap ke depan ada anggaran rutin untuk pemeliharaan, tentu disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah,” tambahnya.
Di sisi lain, keterbatasan venue menjadi alasan Stadion Surya Kencana masih digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk event hiburan.
“Kita memang terbatas venue, sehingga stadion masih menjadi salah satu pilihan,” katanya.
Dengan tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan hiburan, pemerintah melihat adanya potensi dari sektor ekonomi kreatif yang dapat terus dikembangkan. Pengelolaan fasilitas publik seperti stadion pun diharapkan dapat berjalan lebih optimal, baik dari sisi fungsi maupun kontribusinya terhadap daerah. (Boy)
Editor : Nuria Ariawan









