LITERASI MEDIA – Deru banjir bandang, tanah longsor, hingga runtuhnya jembatan dan rumah warga menjadi pemandangan memilukan yang menyelimuti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak Selasa (25/11).
Suara tangis keluarga yang kehilangan anggota keluarganya bergema di sejumlah titik pengungsian, menjadi pengingat bahwa bencana datang tanpa memberi waktu bersiap.
Di tengah situasi kelam itu, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, H Iman Adinugraha, menyampaikan duka cita yang mendalam. Baginya, apa yang terjadi di Sumatera bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan luka besar bagi seluruh bangsa.
“Duka masyarakat Sumatera adalah duka Indonesia,” ujar Iman, pada Kamis (3/12), dengan nada prihatin.
Ia menilai skala bencana kali ini menunjukkan negara harus hadir secara cepat, terpadu, dan masif.
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 3 Desember 2025 mencatat 770 orang meninggal dunia, ratusan lainnya masih hilang, dan ribuan warga terdampak langsung akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi tersebut.
Angka itu, menurut Iman Adinugraha, memperlihatkan betapa besar dampak bencana yang menjadi salah satu yang paling memprihatinkan menjelang akhir 2025.
“Ini tragedi kemanusiaan yang tidak kecil. Ratusan saudara kita kehilangan nyawa, ratusan lainnya hilang. Atas nama pribadi dan sebagai wakil rakyat, saya menyampaikan duka mendalam,” ucapnya.
Namun bagi Iman Adinugraha, duka saja tidak cukup. Ia menegaskan negara tidak boleh kalah oleh situasi. Pemerintah, tegasnya, harus memperkuat proses evakuasi, memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi, dan menambah tenaga maupun logistik di lapangan.
“Saya meminta pemerintah pusat memperkuat status penanganan darurat. Ini bukan bencana biasa. Banyak wilayah lumpuh total. Negara harus hadir lebih kuat,” tegasnya.
Di balik tragedi tersebut, Iman Adinugraha melihat adanya sinyal penting yang tak boleh diabaikan, Indonesia membutuhkan sistem mitigasi bencana yang jauh lebih siap.
Ia menekankan perlunya perbaikan menyeluruh, mulai dari early warning system, kesiapsiagaan daerah, hingga infrastruktur penunjang yang lebih tangguh menghadapi bencana.
“Kita tidak bisa terus berada dalam pola reaktif. Bencana datang, baru sibuk. Banyak daerah yang respons teknis dan infrastrukturnya belum memadai, terutama di wilayah rawan,” jelasnya.
Ia mencontohkan bagaimana akses jalan yang mudah terputus sering kali menghambat proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Iman mengajak masyarakat untuk turut membantu melalui jalur resmi agar bantuan dapat disalurkan tepat sasaran. Dalam pandangannya, gotong royong menjadi kekuatan yang tak pernah lekang saat bangsa ini menghadapi bencana besar.
“Saat ini saudara-saudara kita di Sumatera membutuhkan kita. Saya mengajak seluruh elemen bangsa untuk saling bantu, saling kuatkan,” paparnya.
Sebagai legislator, ia memastikan Fraksi Partai Demokrat di DPR akan mendorong peningkatan anggaran penanganan darurat, rekonstruksi, hingga mitigasi jangka panjang, agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan dampak besar di masa mendatang.
Tragedi di ujung 2025 ini, kata Iman, harus menjadi pengingat bersama, bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan ujian kesiapan, solidaritas, dan kehadiran negara untuk rakyatnya. (Kio).









