LITERASI MEDIA – Jumlah bencana hidrometeorologi di Kota Sukabumi dari waktu ke waktu terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari Pusdalops PB BPBD, terdapat 65 kali bencana yang tersebar di 7 tujuh kecamatan. Angka tersebut dihimpun selama triwulan I, mulai Januari-Maret 2025.
Berdasarkan data yang diperoleh, bencana yang mendominasi yakni cuaca ekstrem dengan jumlah 27 kejadian, disusul banjir 26 kali, tanah longsor enam kali, dan terendah angin topan/beliung serta kebakaran permukiman tiga kali.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taufik, mengatakan dampak bencana hidrometeorologi ini menimbulkan kerugian yang ditaksir mencapai lebih kurang Rp667 juta, dengan luas area 958 Ha, dan 116 KK terdampak, diantaranya 135 orang terdampak.
“Bencana yang terjadi mengakibatkan kerugian yang ditaksir mencapai Rp667.850.000,” ujar Novian, kepada LITERASI MEDIA, pada Senin (28/4/2025).
Novian menjelaskan, pada Maret merupakan frekuensi tertinggi yang dilaporkan masyarakat dengan jumlah 39 kejadian bencana, kemudian disusul Januari 22 kali kejadian, dan Februari empat kali kejadian.
“Secara aggregate bencana alam seperti cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor itu paling mendominasi di Kota Sukabumi,” ungkapnya.
Khusus pada Maret, tercatat ada 39 kali kejadian. Adapun banjir menjadi bencana yang mendominasi yaitu 26 kali, disusul cuaca ekstrem tujuh kali, dan terendah tanah longsor enam kali. Selain itu juga terdapat 116 orang dan 109 unit bangunan terdampak, dengan taksiran nilai kerugian lebih kurang Rp221 juta.
“Jadi pada Maret ini kami mencatat ada 39 kali kejadian. Bencana pada Maret ini juga mengakibatkan kerugian sebesar Rp221.500.000 dengan 0,0521 Ha terdampak,” pungkasnya. (Boy)









