LITERASI MEDIA – Penutupan Milangkala ke-7 Paguyuban Padjadjaran Anyar yang dipimpin Abah Firman berlangsung meriah dan penuh nuansa budaya, di Lapang Cangehgar, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu (27/7).
Acara penutupan ini dimeriahkan oleh sejumlah paguron atau perguruan silat dan seni dari berbagai daerah. Mereka menampilkan beragam atraksi budaya tradisional, termasuk pertunjukan debus yang menjadi pusat perhatian pengunjung.
Abah Firman, Ketua Paguyuban Padjadjaran Anyar, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan berbagai pihak yang telah hadir dan berkontribusi dalam kegiatan milangkala tersebut.
“Alhamdulillah saya ucapkan terima kasih kepada Disbudpora, Dinas Pariwisata, Camat Palabuhanratu, Kesbangpol, serta para penggiat budaya di Sukabumi, khususnya Palabuhanratu, yang telah hadir di milangkala Paguyuban Padjadjaran Anyar ke-7 dan sekaligus acara penutupan ini,” ujar Abah Firman.
Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan dari unsur legislatif. Dua anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, Hamzah Gurnita dari Fraksi PKB dan Junajah Jajah dari Fraksi PDIP, turut hadir dalam acara tersebut.
“Kami sangat berterima kasih kepada para anggota dewan yang sudah mendukung dan menghadiri kegiatan ini. Harapannya ke depan pemerintah bisa lebih maksimal dalam mendukung kegiatan budaya, baik dari segi anggaran maupun dukungan moral,” tambahnya.
Beberapa padepokan yang hadir di antaranya Ikatan Betawi (Isbat), Dada Lipati, Sukma Sunda, DPKB Banten, dan tokoh budaya dari Bandung, Kang Ari Tulang.
Namun demikian, Abah Firman mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran kepala daerah dalam rangkaian acara, meskipun undangan sudah disampaikan sejak jauh hari.
“Kami sudah mengundang Bupati dan Wakil Bupati sejak awal, juga pihak Gubernur Jawa Barat melalui sekretaris pribadinya. Tapi hingga penutupan tidak ada konfirmasi atau kehadiran. Tentu saja saya sangat kecewa,” tegasnya.
Di akhir acara, Abah Firman menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya serta menghormati jasa para leluhur.
“Jangan pernah meninggalkan sejarah. Milangkala ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dulu membangun dan membuka Palabuhanratu,” tandasnya.
Kegiatan milangkala ini menjadi momentum tahunan yang bukan hanya mempererat silaturahmi antar penggiat budaya, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan. (***)
Penulis : Nuria Ariawan









