LITERASI MEDIA – Upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC) di Kota Sukabumi masih menghadapi tantangan besar. Hingga April 2026, capaian skrining kasus baru tercatat baru sekitar 30 persen dari target tahunan yang telah ditetapkan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi, Ida Halimah, menyampaikan bahwa target skrining terduga TBC sepanjang tahun ini mencapai 10.184 orang. Namun, hingga memasuki bulan keempat, jumlah warga yang telah diperiksa baru mencapai 3.027 orang.
“Capaian ini masih jauh dari target. Artinya, upaya penemuan kasus harus terus ditingkatkan,” ujarnya, kepada awak media, Senin (4/5).
Dari proses skrining tersebut, pemerintah menargetkan dapat menemukan sekitar 2.096 kasus TBC sepanjang 2026, berdasarkan perhitungan epidemiologi nasional yang mempertimbangkan jumlah penduduk dan tingkat kepadatan.
Namun, dinamika menarik justru terlihat dari profil pasien yang menjalani pengobatan. Data Dinkes Kota Sukabumi menunjukkan, mayoritas pasien TBC yang ditangani di Kota Sukabumi berasal dari luar daerah.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, mengungkapkan bahwa dari total 866 pasien yang sedang menjalani terapi, sekitar 53 persen merupakan warga luar kota.
“Pasien banyak datang dari wilayah sekitar seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur, hingga Bogor, namun memilih berobat di fasilitas kesehatan Kota Sukabumi,” jelasnya.
Salah satu fasilitas kesehatan dengan temuan kasus tertinggi adalah RSUD R Syamsudin SH dengan total ratusan pasien, disusul rumah sakit swasta dan puskesmas.
Meski fasilitas kesehatan dinilai memadai, tingkat keberhasilan pengobatan masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, angka keberhasilan terapi TBC di Kota Sukabumi baru mencapai 76 persen, masih di bawah target nasional sebesar 90 persen.
Denna menilai, rendahnya capaian tersebut bukan semata karena layanan kesehatan, melainkan dipengaruhi karakteristik pasien, khususnya dari luar daerah.
“Pasien luar kota cenderung sulit dipantau. Banyak yang tidak melanjutkan pengobatan hingga tuntas,” ujarnya.
Padahal, pengobatan TBC harus dijalani minimal selama enam bulan secara konsisten. Banyak pasien yang menghentikan pengobatan lebih awal karena merasa kondisi tubuh sudah membaik dalam beberapa minggu pertama.
“Gejala memang cepat mereda, tapi itu bukan berarti sembuh total. Jika berhenti, risiko penularan dan keparahan justru meningkat,” pungkasnya. (Boy)
Editor : Nuria Ariawan









