LITERASI MEDIA – Di bawah langit cerah Sabtu pagi, pelataran Yayasan Nur Hayatul Islam di Kelurahan Gunungpuyuh tampak lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga Kota Paris Kulon (KPK) RW 007 berdatangan, sebagian membawa buku catatan, sebagian lagi datang berkelompok sambil berbincang ringan.
Mereka bukan berkumpul untuk kegiatan seremonial, melainkan untuk mempelajari sesuatu yang jarang disentuh, tetapi sangat penting, pemulasaraan jenazah.
Seminar yang diinisiasi RW 007 ini disambut antusias. Tema yang diangkat yaitu *meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pengurusan jenazah sesuai syariat dan kesehatan* seolah menegaskan bahwa kematian, meski tak pernah direncanakan, adalah bagian hidup yang harus disiapkan dengan hormat.
Ketua RW 007, Iing Solihin, memandang kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tetapi bentuk tanggung jawab sosial. Dengan suara tenang ia mengingatkan peserta mengurus jenazah bukan pekerjaan ringan, namun sebuah amal ibadah yang nilai pahalanya tak terbandingkan.

Iing ingin masyarakat di wilayahnya mandiri, tidak selalu menunggu petugas dari luar ketika keadaan mendadak terjadi.
Di antara peserta yang duduk dengan penuh perhatian, tampak Momi Soraya, penasihat Yayasan Nur Hayatul Islam.
Dalam sambutannya, ia menekankan pemulasaraan bukan hanya proses teknis. Ada sisi kemanusiaan, empati, dan amanah agama yang harus berjalan beriringan.
Pengetahuan yang minim, katanya, sering kali membuat keluarga kebingungan saat berduka. “Mengurus jenazah bukan sekadar memandikan atau mengafani. Ada rasa hormat yang harus dijaga, ada aturan syariat dan standar kesehatan yang harus dipenuhi,” jelasnya.
Melalui bimbingan teknis ini, peserta diajak memahami urutan pengurusan jenazah, penanganan awal, tata cara memandikan, mengkafani, hingga penyiapan akhir. Tidak sedikit warga yang mencatat setiap detail, khawatir ada langkah yang terlewat.
Materi yang disampaikan pelan namun tegas membuat suasana terasa begitu dekat dengan pengalaman nyata.
Di sela kegiatan, Wawan Kurniawan, tokoh masyarakat RW 007 menyampaikan pandangannya. Suaranya bergetar ringan, seolah merefleksikan pengalaman pribadi.
“Kegiatan ini sangat mulia. Kita tidak tahu kapan ajal datang,” ujarnya pelan. Bagi Wawan, memiliki warga yang terampil dalam pemulasaraan adalah bentuk kesiapsiagaan lingkungan. Dalam duka, katanya, masyarakat harus saling menopang.
Seminar hari itu bukan hanya soal keterampilan teknis. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pertemuan antara ilmu, empati, dan kepedulian. Ketika kegiatan usai, para peserta bertegur sapa sambil terus membahas materi yang mereka pelajari, menandakan bahwa edukasi ini telah membuka kesadaran baru.
RW 007 tak hanya ingin warganya memahami proses pemulasaraan, tetapi juga menjaga nilai paling fundamental, memuliakan sesama manusia hingga ke peristirahatan terakhir. (kio).









